Teknologi ini dirancang khusus untuk mengatasi kendala utama di area pegunungan, yakni minimnya sinyal seluler dan luasnya medan pencarian saat terjadi kondisi darurat atau operasi SAR.
Respons Cepat Lewat Satu Tekanan Tombol
Berbeda dengan sistem pendaftaran manual biasa, gelang pintar yang dipasangkan pada pergelangan tangan pendaki dilengkapi dengan pemancar sinyal jarak jauh berbasis LoRaWAN (Long Range Wide Area Network). Teknologi ini memungkinkan alat tetap mengirimkan data koordinat meskipun berada di area blank spot seluler.
"Fitur utamanya adalah Panic Button. Jika pendaki mengalami keadaan darurat seperti cedera parah atau hipotermia, mereka cukup menekan tombol tersebut. Sinyal akan langsung diterima oleh petugas di pos pemantauan," ujar salah satu pengembang sistem navigasi gunung.
Selain tombol darurat, alat ini memungkinkan tim SAR untuk melacak posisi real-time dan memberikan peringatan otomatis (geofencing) jika pendaki keluar dari jalur resmi yang telah ditentukan. Hal ini diyakini dapat memangkas waktu pencarian hingga 80% karena koordinat lokasi sudah diketahui secara pasti.
Perspektif Pendaki: Antara Keamanan dan Kemandirian
Penerapan teknologi ini memicu beragam tanggapan dari komunitas pecinta alam. Meskipun secara umum disambut baik sebagai alat keselamatan, terdapat perbedaan sudut pandang antara pendaki senior dan pemula.
Rian (45), seorang pendaki berpengalaman yang telah menjelajahi berbagai puncak di Indonesia, memandang teknologi ini sebagai pedang bermata dua.
"Secara teknologi, ini luar biasa untuk mempercepat evakuasi. Namun, kekhawatiran saya adalah pendaki jadi merasa 'terlalu aman'dan menjadi manja. Mereka mungkin meremehkan persiapan fisik atau kemampuan navigasi karena merasa kalau tersesat tinggal tekan tombol. Teknologi bisa mati karena baterai atau benturan, tapi skill bertahan hidup tidak boleh hilang," tegasnya.
Sedangkan, bagi pendaki pemula, teknologi ini dianggap sebagai penyelamat nyawa yang memberikan rasa percaya diri. Siska (21), seorang pendaki yang baru aktif satu tahun terakhir, mengaku sangat mendukung kebijakan ini.
"Ketakutan terbesar saya adalah tersesat di jalur yang sepi. Dengan adanya gelang ini, saya merasa lebih tenang karena tahu ada petugas yang bisa melihat posisi saya. Orang tua di rumah juga pasti lebih tenang memberikan izin," ungkapnya.
Implementasi di Gunung-Gunung Indonesia
Saat ini, beberapa wilayah sudah mulai melakukan uji coba dan penerapan sistem serupa, di antaranya:
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango: Menjadi salah satu pionir yang menguji coba penggunaan gelang identitas digital untuk memantau arus pendaki.
Gunung Merapi & Lawu: Pengembangan sistem serupa dilakukan untuk meminimalkan risiko pendaki terjebak di zona bahaya saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Teknologi Selaras dengan Edukasi
Meskipun teknologi gelang pemantau tersedia, pihak pengelola tetap menghimbau pendaki untuk tidak bergantung sepenuhnya pada alat. Kesiapan fisik, pengetahuan navigasi manual, dan perlengkapan standar tetap menjadi faktor utama keselamatan.
"Alat ini adalah pendukung. Yang utama tetaplah manajemen perjalanan dan kepatuhan pendaki terhadap aturan di gunung," tulis pernyataan resmi dari pihak pengelola pendakian. Dengan adanya kolaborasi antara teknologi dan kesadaran pendaki, diharapkan angka kecelakaan di gunung dapat ditekan secara signifikan.

Komentar0